A. Pengertian Evaluasi
Pada umumnya konsep
evaluasi sebagai proses adalah mengumpulkan informasi dan menggunakan standar
atau kriteria dalam evaluasi, menarik kesimpulan, menetapkan suatu keputusan
yang berguna yang dapat diaplikasikan pada semua situasi yang dihadapkan pada
pimpinan organisasi. Ketiga unsur tersebut dicakup pada semua evaluasi. Semua
metode kerja, kegiatan dan situasi dalam suatu organisasi dapat dievaluasi.
Evaluasi dalam konteks
manajemen terutama digunakan untuk membantu memilih dan merancang kegiatan yang
akan datang. Studi evaluasi dapat menilai atau menduga keadaan yang dihasilkan
suatu kegiatan dalam hal ini perubahan organisasi (mencakup keluaran/output dan hasil/outcome) dan
distribusi manfaat diantara berbagai kelompok sasaran, dan dapat menilai
efektivitas biaya dari proyek dibanding dengan pilihan lainnya. Jika kegiatan
tidak mempunyai sistem evaluasi yang efektif, bahaya akan meningkat untuk
melanjutkan kegiatan yang tidak menghasilkan manfaat yang diinginkan. Evaluasi
diperlukan untuk melihat kesenjangan antara “harapan dan kenyataan”. Hal yang
sangat dipentingkan dalam semua kegiatan evaluasi adalah kesempurnaan dan
keakuratan data. Evaluasi pada dasarnya merupakan kajian yang merupakan
kegiatan mencari faktor-faktor penyebab timbulnya permasalahan, bukan hanya
sekedar gejala yang tampak dalam permukaan. Karena itu evaluasi merupakan
kegiatan diagnostik, menjelaskan interpretasi hasil analisis data dan
kesimpulan.
Proses evaluasi
terhadap kinerja organisasi ini penting dilakukan, karena tanpa evaluasi tidak
akan diketahui sampai sejauhmana organisasi tersebut telah efektif melakukan
perubahan menuju organisasi berkinerja tinggi. Bisa dikatakan bahwa evaluasi
terhadap kinerja organisasi pada hakekatnya adalah sebuah usaha untuk
mengetahui “di mana kita nyatanya berada” dan “di mana kita seharusnya berada”.
Dari hasil evaluasi bisa diketahui apa kekurangan dalam mewujudkan organisasi
berkinerja tinggi dan kemudian dapat dilakukan langkah-langkah intervensi untuk
memperbaiki kondisi yang ada.
Selanjutnya sebagai
indikator organisasi berkinerja tinggi dapat diukur dari hasil kerja organisasi
(kinerja) organisasi itu sendiri. Bila hasil evaluasi ternyata menunjukkan
kinerja yang tinggi berarti organisasi tersebut telah berhasil melakukan perubahan
menjadi organisasi berkinerja tinggi. Akan tetapi sebaliknya bila hasil
evaluasi menunjukkan kinerja yang belum memuaskan, maka perlu dicari
permasalahan apa yang menghambat terwujudnya organisasi berkinerja tinggi.
B. Pendekatan Evaluasi Kinerja
Organisasi
Mengingat pentingnya
evaluasi kinerja organisasi untuk mengetahui tingkat perubahan datam mewujudkan
organisasi berkinerja tinggi, maka pertanyaan yang muncul adalah:
·
bagaimana melakukan evaluasi terhadap kinerja
organisasi?
·
Pendekatan apa yang digunakan?
·
dan indikator apa
saja yang pertu diukur sehingga evaluasi yang dilakukan dapat memberi informasi
keadaan yang sebenarnya dari tingkat kinerja yang ada?
Untuk mengevaluasi
kinerja sebuah organisasi bisa digunakan beberapa pendekatan. Pendekatan
tersebut antara lain:
1. Pendekatan pencapaian tujuan
Pendekatan ini
merupakan pendekatan yang paling umum digunakan dalam menilai kinerja
organisasi, dimana output dan atau hasil yang ada/dicapai dibandingkan dengan
hasil sebelumnya dan rencana/target yang telah ditetapkan. Dengan kriteria ini
kinerja organisasi ditentukan dengan seberapa jauh pencapaian tujuan
organisasi.
Untuk bisa menggunakan
pendekatan ini, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, antara lain:
·
Organisasi mempunyai tujuan akhir yang jelas, yang tercermin
dari visi dan misi yang dimiliki
·
Tujuan-tujuan tersebut diidentifikasi dan ditetapkan dengan baik
agar dapat dimengerti
·
Tujuan-tujuan tersebut sedikit saja agar mudah dikelola
·
Ada konsensus untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
·
Kemajuan kearah pencapaian tujuan tersebut dapat diukur.
2. Pendekatan Sistem/Proses
Internal
Organisasi yang
berkinerja tinggi harus memiliki proses internal “yang sehat”. Organisasi
memiliki proses internal yang sehat jika arus informasi berjalan baik, pegawai
mempunyai loyalitas, komitmen, kepuasan kerja dan saling percaya. Kriteria yang
lain adalah minimalnya konflik yang tidak perlu terjadi serta tidak ada manuver
politik yang merusak dari para anggota. Selain itu, pendekatan ini lebih
menekankan kriteria yang akan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang
dari organisasi, seperti memperoleh sumber daya, mempertahankan dirinya secara
internal dan berintegrasi dengan lingkungan eksternalnya. Tujuan akhir tidak
diabaikan, tetapi hanya dipandang sebagai satu elemen di dalam kumpulan
kriteria yang lebih kompleks. Pendekatan ini lebih menekankan
pada cara untuk mencapai tujuan. Hal-hal tersebut di atas
didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut :
·
Organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling berhubungan,
dimana jika salah satu bagian mempunyai kinerja yang jelek akan berpengaruh
terhadap keseluruhan organisasi.
·
Interaksi yang berhasil dengan lingkungan, sehingga manajemen
tidak boleh gagal dalam mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan, serikat
pekerja, dan lainnya.
·
Kelangsungan hidup membutuhkan sumber daya, oleh karena itu
harus dilakukan penggantian terus menerus terhadap bahan baku, lowongan/
kekurangan pegawai diisi, perubahan pelanggan diantisipasi dan sebagainya.
Pendekatan sistem ini
akan sangat berguna jika ada hubungan yang jelas antara masukan (input) dan keluaran (out-put) dan sebaliknya ada beberapa kendala
karena kesulitan mengembangkan alat ukur, misalnya untuk melihat kejelasan
komunikasi intern.
3. Pendekatan Kepuasan
Konstituen Strategis
Organisasi tergantung
dan sekaligus mempengaruhi hidup orang-orang atau pihak di luar organisasi.
Oleh karena itu tingkat kepuasan tiap-tiap pihak yang terlibat merupakan
kriteria penting bagi kinerja organisasi. Dengan pendekatan ini organisasi
pemerintah dikatakan efektif dan atau berkinerja tinggi jika dapat memenuhi
tuntutan dari konstituen yang mendukung kelanjutan eksistensi organisasi
tersebut. Yang dimaksud dengan konstituen disini adalah orang atau sekelompok
orang yang mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidup organisasi, seperti
penyedia sumber daya, pelanggan dan sebgainya.
Dan hal tersebut penting
kiranya bagi organisasi mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi
konstituennya yang penting. Organisasi mampu menilai pola preferensi konstituen
tersebut dan mampu memenuhi tuntutannya serta pada akhirnya organisasi harus
mengejar sejumlah tujuan yang dipilih sebagai respon terhadap kelompok-kelompok
kepentingan.
Pendekatan ini akan
sangat berguna ketika konstituen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap
organisasi. Seperti yang terjadi sekarang ini dimana masyarakat, Lembaga
Swadaya Masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat begitu kuat tuntutannya kepada
pemerintah (baca: organisasi pemerintah) untuk bisa memberikan pelayanan yang
sebaik-baiknya. Karena adanya tuntutan tersebut organisasi pemerintah
diharapkan menanggapi dan memenuhi tuntutan konstituen tersebut.
Ada beberapa kesulitan
yang mungkin akan dihadapi ketika menggunakan pendekatan ini. Penentuan
konstituen strategis pada lingkungan yang besar pada prakteknya sangat sulit,
karena lingkungan berubah dengan cepat. Hal lain adalah pada masing-masing
bagian/unit organisasi bisa saja mempunyai konstituen strategis yang berbeda.
Dengan kondisi ini dengan sendirinya organisasi akan kesulitan menetapkan
konstituen mana yang harus dipenuhi tuntutannya.
4. Pendekatan Faktor Bersaing
Pada pendekatan ini
seluruh variabel yang mempengaruhi efektivitas organisasi diidentifikasi,
kemudian menentukan bagaimana variabelvariabel tersebut saling berhubungan. Hal
ini dilakukan karena menurut pendekatan ini, tidak ada pendekatan/kriteria yang
paling baik untuk menilai kinerja organisasi. Tidak ada tujuan tunggal yang
dapat disetujui semua orang dan tidak ada konsensus yang menetapkan tujuan mana
yang harus didahulukan. Oleh karena itu berbagai pendekatan tersebut
dikonsolidasikan/dikombinasikan sehingga membentuk kumpulan dasar nilai
bersaing.
Dari kombinasi yang
dilakukan didapat tiga kumpulan dasar nilai bersaing sebagai berikut :
·
Fleksibilitas versus kontrol. Dalam tiap organisasi dibutuhkan
adanya fleksibilitas dan sekaligus kontrol yang merupakan dimensi yang saling
berlawanan. Fleksibilitas menghargai inovasi, penyesuaian dan perubahan
mengikuti perubahan dalam lingkungan, sedangkan kontrol lebih menyukai
stabilitas, ketentraman dan kemungkinan prediksi.
·
Kepentingan manusia versus kepentingan organisasi. Dalam tiap
organisasi dimana didalamnya terdiri dari manusia, akan selalu ada persaingan
dimana manusia (sebagai individu/kelompok kecil individu) mempunyai kepentingan
yang terkadang berbenturan dengan kepentingan organisasi. Dari hal ter sebut
ter jadi persaingan apakah penekanan lebih terhadap kebutuhan dan kesejahteraan
manusia atau pengembangan dan produktivitas organisasi.
·
Cara/proses versus tujuan/hasil. Kondisi ideal dari tiap
organisasi adalah cara/proses berjalan dengan baik dalam arti sinergi dari tiap
orang/unit berjalan baik sehingga tujuan organisasi tercapai dengan baik.
C. lndikator dan Metode
Evaluasi Kinerja Organisasi
Untuk melakukan
evaluasi terhadap kinerja organisasi perlu ditentukan indikator yang akan
diukur. Indikator ini bisa di break-down dari
kombinasi pendekatanpendekatan yang telah dikemukakan sebelumnya. Selain itu
indikator dapat pula dilihat dari beberapa metode pengukuran kinerja yang
selama ini dikenal seperti Common Assessment
Framework (CAF) dan Baldrige National Quality
Program (BNQP).
1. Common Assessment Framework
(CAF)
CAF merupakan alat
untuk mengukur organisasi (self assessment) di
sektor publik. CAF dikembangkan oleh Directors-General of Public
Administration dari negara anggota Uni Eropa untuk mendukung
pengenalan ide dan prinsip-prinsip total quality management (TQM)
di bidang sektor publik di Uni Eropa dan sekitarnya.
CAF terdiri dari 9 kriteria evaluasi yang secara bersama-sama
membentuk sebuah framework yang logis dan
menyeluruh, dan memungkinkan untuk dilakukannya pengukuran pada kegiatan dan
tindakan yang relevan, dan kinerja dari organisasi sektor publik. Empat
kriteria digunakan untuk mengukur kinerja enabler (apa
yang dilakukan organisasi untuk mencapai hasil yang ekselen). Kemudian, lima
kriteria digunakan untuk mengukur results (hasil-hasil
yang dicapai organisasi).
Kriteria yang masuk
dalam kategori Enabler adalah :
·
Kriteria 1: Kepemimpinan, yaitu bagaimana pimpinan dan manajer
mengembangkan dan memfasilitasi pencapaian misi dan visi dari organisasi
publik.
·
Kriteria 2: Kebijakan dan Strategi, yaitu bagaimana organisasi
menerapkan misi dan visinya melalui strategi yang berfokus pada stakeholder yang jelas, didukung oleh kebijakan,
tujuan yang telah direncanakan, target dan proses-proses yang relevan.
·
Kriteria 3: Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu bagaimana
organisasi mengelola, mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan dan potensi
orang-orangnya secara maksimal pada tingkat individu, kelompok, maupun
organisasi.
·
Kriteria 4: Sumber-sumber dan Kemitraan Eksternal, yaitu
bagaimana organisasi merencanakan dan mengelola kemitraan eksternal dan
sumber-sumber internalnya untuk mendukung kebijakan dan strateginya, dan proses
operasinya yang efektif.
Kriteria yang masuk
dalam kategori Results adalah :
·
Kriteria 5: Manajemen Proses dan Perubahan, yaitu bagaimana
organisasi mendisain, mengelola dan meningkatkan prosesnya untuk mendukung
kebijakan dan strateginya, dan secara penuh memuaskan para pengguna jasa
dan stakeholder-nya.
·
Kriteria 6: Hasil-hasil yang berorientasi pada pengguna
jasa/masyarakat, yaitu hasil apa yang dicapai organisasi dalam usahanya untuk
memenuhi kebutuhan dan harapan para pengguna jasa dan masyarakat dengan
hasil-hasil (out–comes) external-nya.
·
Kriteria 7: Hasil-hasil Manusia (Pegawai), yaitu hasil-hasil
yang dicapai organisasi dalam kaitannya dengan kepuasan para pegawainya.
·
Kriteria 8: Dampak pada masyarakat, yaitu apa yang dicapai
organisasi dalam memuaskan kebutuhan dan harapan dari masyarakat pada tingkat
lokal, nasional, dan internasional (sesuai dengan cakupan organisasi).
·
Kriteria 9: Hasil-hasil Kinerja Kunci, yaitu apa yang dicapai
organisasi dalam hubungannya dengan mandat dan tujuan-tujuan khususnya dan
dalam memuaskan kebutuhan dan harapan dari setiap orang.
2. Baldrige National Quality
Program (BNQP) BNQP adalah sebuah program yang dilaksanakan oleh National Institute of Standards and Technology (NIST),
sebuah lembaga federal dibawah Commerce Department’s
Technology Administration. Program ini ditujukan untuk
meningkatkan tingkat kompetisi, kualitas, produktifitas dan kinerja
organisasi-organisasi di Amerika Serikat. Adapun kriteria-kriteria yang dievaluasi
melalui metode ini dibangun berdasarkan seperangkat nilai dan konsep yang
saling berhubungan sebagai berikut:
1.
Visionary leadership, yaitu seorang pemimpin harus menyusun arah,
sistim nilai yang jelas serta pengharapan yang tinggi bagi organisasinya. Arah,
sistim nilai dan pengharapan harus seimbang terhadap keseluruhan
kebutuhan stakeholder. Selain itu
pemimpin harus bisa juga menjamin bahwa pada penyusunan strategi, sistem dan
metode menunjang pencapaian hasil yang terbaik, mendorong inovasi serta membangun
pengetahuan dan kemampuan pegawai.
2.
Customer-driven excellence, yaitu sebuah konsep
strategis dalam menghadapi keinginan customer serta
pasar. Kualitas dan kinerja dinilai oleh customer organisasi.
Oleh karena itu prinsip ini mempunyai dua komponen, yang pertama kemampuan
memahami kemauan customer saat ini dan kedua, antisipasi terhadap kemauan
customer dimasa depan serta perkembangan pasar.
3.
Organizational and personal learning, yaitu dalam pencapaian
level tertinggi dari kinerja organisasi dibutuhkan organizational and personal
learning agar dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di dalam
organisasi.
4.
Valuing employees and partners, yaitu peduli pada
peningkatan pengetahuan, keahlian, kreativitas dan motivasi para pegawai dan
relasi kerja.
5.
Ability yaitu sebuah kemampuan untuk perubahan yang
cepat dan fleksibilitas.
6.
Focus on the future yaitu orientasi yang
kuat akan masa depan dan kemauan membentuk komitmen jangka panjang dengan stakeholder. Perencanaan organisasi harus
mempertimbangkan banyak faktor seperti harapan customer, peluang
bisnis yang baru, globalisasi, perkembangan teknologi dan sebagainya.
7.
Managing for innovation. Dengan prinsip ini inovasi adalah melakukan
perubahan yang berarti untuk meningkatkan kualitas produk, servis dan proses
yang memberi nilai tambah baru bagi seluruh stakeholder. Inovasi
harus mampu membimbing organisasi menuju pada tingkat lain dari kinerja yang
telah dicapai.
8.
Management by fact, yaitu ketergantungan organisasi pada
pengukuran dan analisis kinerja. Dengan analisa data dari hasil
pengukuran kinerja dilakukan evaluasi dan perubahan untuk mendukung pencapaian
tujuan.
9.
Public responsibility and citizenship, yaitu penekanan
tanggungjawab organisasi pada publik terkait dengan kesehatan dan keselamatan
publik dan keselamatan lingkungan serta kemauan bertindak sebagai warga yang
baik dengan mengutamakan tujuan-tujuan penting dimasyarakat seperti peningkatan
pendidikan misalnya.
10.
Focus on results and creating value yaitu pengukuran
kinerja organisasi harus fokus pada pencapaian hasil. Pencapaian hasil
digunakan sebagai penciptaan nilai tambah dan nilai penyeimbang antar stakeholder. Dengan menciptakan nilai tambah bagi
para stakeholder, organisasi membangun loyalitas dan
berkontribusi pada lingkungannya.
11.
System perspective yaitu melihat organisasi sebagai suatu
keseluruhan dari semua unsur-unsur yang ada untuk mencapai sukses yang
diidamkan.
Bila dikaitkan dengan
organisasi berkinerja tinggi, sebagaimana dikemukakan oleh Mark G. Popovich
(1998), terdapat 8 karakteristik organisasi berkinerja tinggi diantaranya
adalah :
·
Mempunyai misi yang jelas.
·
Menetapkan hasil yang akan dicapai dan berfokus pada pencapaian
keberhasilan tersebut.
·
Memberdayakan para pegawainya.
·
Memotivasi individu-individu dalam organisasi untuk meraih
sukses.
·
Bersifat fleksibel dan selalu dapat menyesuaikan diri dengan
kondisi yang baru.
·
Selalu berkompetisi meningkatkan kinerja
·
Selalu menyempurnakan prosedur kerja demi untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan atau masyarakat.
·
Selalu berkomunikasi dengan stakeholders (pihak
terkait dengan kinerja organisasi
Dari pendekatan dan indikator di atas, untuk mengevaluasi kinerja organisasi bisa dilakukan dengan indikator-indikator sebagai berikut :
1.
Visi dan misi, yang diukur dari tingkat
pencapaiannya
2.
Pemberdayaan pegawai, yang diukur yaitu sampai sejauh mana pegawai
diberdayakan dalam rangka proses pencapaian visi dan misi, motivasi dilakukan
terhadap individu-individu di dalam organisasi.
3.
Fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi yang baru, yang diukur
yaitu sejauhmana organisasi menyesuaikan dengan perubahan dan sejauhmana
pula learning organization/penciptaan iklim belajar terus
menerus dilakukan.
4.
Selalu berkomunikasi dengan stakeholders/pihak
terkait dengan kinerja organisasi (customer-driven excellence),
yang diukur adalah sejauh mana organisasi/individu organisasi dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat/ pelanggan.
5.
Menetapkan hasil yang akan dicapai dan berfokus pada pencapaian
keberhasilan tersebut (focus on results and creating value),
yang diukur adalah sampai sejauh mana pengukuran kinerja dilakukan dalam
mencapai visi dan misi.
6.
Selalu berkompetisi meningkatkan kinerja, yang diukur adalah
sejauh mana pemupukan semangat berusaha dilakukan, ketangguhan pegawai
menghadapi masalah dan semangat pegawai yang senantiasa berusaha dan tidak
mudah menyerah.
D. Rangkuman
Evaluasi pada dasarnya merupakan kajian yang merupakan kegiatan
mencari faktor-faktor penyebab timbulnya permasalahan, bukan hanya sekedar
gejala yang tampak dalam permukaan. Karena itu evaluasi merupakan kegiatan
diagnostik, menjelaskan interpretasi hasil analisis data dan kesimpulan.
Evaluasi bersifat diagnosa untuk mengetahui persoalan dan
memecahkan persoalan. Evaluasi dalam mata diklat ini lebih tertuju evaluasi
permasalahan organisasi setelah dilaksanakan perubahan organisasi pada uit
kerja eselon II. setelah dilaksanakan perubahan atau pengembangan harus ada
evaluasi pelaksnan terhadap organisasi untuk memetakan persoalan yang terjadi.
Oleh karena itu para peserta harus dilandasi pola berpikir objektif, sehingga
hasil evaluasi bertitik tolak pada landasan hasil evaluasi, dimana dihindarkan
unsur subjektivitas dalam merumuskan hasil evaluasi.
Pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi kinerja
meliputi : (1) Pendekatan pencapaian tujuan, (2) pendekatan sistem atau proses
internal, (3) pendekatan kepuasan konstituen strategis, dan (4) pendekatan
faktor bersaing. Untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja organisasi perlu
ditentukan indikator yang akan diukur. Indikator ini bisa di break-down dari kombinasi pendekatan- pendekatan
yang telah dikemukakan sebelumnya. Selain itu indikator dapat pula dilihat dari
beberapa metode pengukuran kinerja yang selama ini dikenal seperti Common Assessment Framework (CAF) dan Baldrige National Quality Program (BNQP).
Indikator-indikator untuk mengevaluasi kinerja organisasi
tersebut adalah : (1)Visi dan misi, (2) Pemberdayaan pegawai, (3) Fleksibel dan
menyesuaikan dengan kondisi yang baru, (4) Selalu berkomunikasi dengan stakeholders/pihak terkait dengan kinerja organisasi (customer-driven excellence), (5) Menetapkan hasil yang
akan dicapai dan berfokus pada pencapaian keberhasilan tersebut (focus on results and creating value), (6) Selalu
berkompetisi meningkatkan kinerja.
Komentar
Posting Komentar